Perempuan Jawa dalam Perspektif Modern

Suku Jawa merupakan keturunan dari ras Austronesia yang berasal dari bangsa Taiwan yang menuju Jawa melalui FilipinaCiri-ciri fisik suku Jawa diantaranya berkulit sawo matang, tubuh berukuran sedang, mempunyai bola mata hitam atau kecoklatan dan berambut hitam. Suku Jawa termasuk salah satu bangsa yang mempunyai bahasa sendiri yang disebut dengan bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa terdapat paramasastra yang artinya adalah aturan berbahasa antara dua atau lebih orang yang melakukan percakapan sebagai penanda status sosialnya. Dalam perkembangannya kehidupan masyarakat Jawa selama ini menganut budaya patriarki dimana status sosial pihak keturunan laki-laki lebih mendominasi dalam memegang urusan publik baik politik, otoritas moral, sosial, maupun dalam hal penguasaan properti. Sistem ini mau tidak mau dengan sendirinya menempatkan posisi wanita atau perempuan Jawa berada di bawah dominasi laki-laki. 

Walaupun menganut budaya patriarki, sejarah mencatat peranan perempuan Jawa tidak bisa dianggap enteng. Sebut saja Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga yang masyhur dengan keberpihakannya pada keadilan, juga Isyana Tunggawijaya dari Kerajaan Mataram kuno, Tribhuana Tunggadewi dan Dyah Suhita dari Majapahit. Di masa penjajahan kita juga mengenal perempuan-perempuan Jawa yang tangguh luar biasa diantaranya tokoh perintis pendidikan wanita Raden Dewi Sartika, pengatur strategi perang yang andal Nyi Ageng Serang (bahkan Pangeran Diponegoro sering meminta bantuan dari beliau), juga pahlawan pejuang hak-hak perempuan Raden Ajeng Kartini. Perempuan-perempuan hebat ini walaupun terbelit budaya patriarki tetaplah mempunyai peranan yang luar biasa dalam setiap lini kehidupan baik dalam urusan domestik maupun publik di ranah politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Namun sejatinya dimanapun status sosialnya berada, perempuan-perempuan Jawa terkenal ulet dan gigih dalam menggulirkan roda kehidupan. 

Perempuan Jawa dikenal sifatnya sebagai sosok yang kalem, santun, nrimo, dan selalu menjaga etika dalam bersosialisasi di masyarakat. Hal ini tidak lepas dari kultur budaya Jawa yang menuntut perempuan untuk bisa menempatkan dirinya pada tempat yang semestinya. Sejak masa kanak-kanak perempuan Jawa sudah ditempa dengan pendidikan soft skill utnuk memahami tanggung jawabnya kelak. Hal inilah yang membuat perempuan Jawa memahami benar perannya sebagai seorang istri dan ibu. Mereka dididik untuk menjadi mandiri tidak bergantung pada orang lain hingga tumbuhlah sifat ulet, sabar, tangguh, pekerja keras, hemat, namun taat akan perintah atau penurut. 

Dalam bahasa Jawa terdapat beberapa sebutan untuk perempuan diantaranya adalah putri, estri, wanita, dan wadon. Jika kita mempelajari literatur bahasa Jawa akan menemukan istilah kerata basa yang merupakan tata cara mengartikan sebuah kata menurut asal kata bentukannya. Padanan kerata basa ini dalam bahasa Indonesia bisa juga disebut dengan akronim. Menurut kerata basa kata putri diartikan pu – putus, dan tri – tri perkawis jika digabung menjadi putus tri perkawis yang mengandung makna perempuan hendaknya mampu memenuhi tanggung jawabnya dalam tiga perkara yaitu sebagai estri, wanita, dan wadon.  

Kata estri berasal dari bahasa Kawi yang berbunyi estren atau pangestren yang berarti pendorong, pemberi semangat, atau bisa juga diartikan sumber kekuatan bagi pasangannya. Dalam setiap zaman, selalu dikisahkan bahwa seorang lelaki hebat selalu mempunyai pendamping perempuan yang luar biasa pula. Itu membuktikan ungkapan bahwa dibalik kehebatan pria selalu ada wanita luar biasa. Hal ini juga berlaku di masa yang lebih modern, seorang perempuan Jawa pantang melihat pasangannya susah seorang diri maka mereka ikut ambil bagian dalam membalik roda perekonomian keluarga. Berbagai profesi mereka geluti sesuai bakat dan potensi yang mereka miliki. Mulai dari petani, pedagang, buruh pabrik, asisten rumah tangga, guru, dan sebagainya. Kata estri juga mempunyai padanan kata garwa yang dalam kerata basa dimaknai sigaraning nyawa atau separuh nyawa dari pasangannya. 

Wanita dalam bahasa Jawa dibaca wanito dalam kerata basa dimaknai wa – wani dan ta – tata. Maksud dari wani tata adalah bahwa selain perempuan harus bersedia hidup dalam peraturan sesuai adat istiadat Jawa juga perempuan dituntut untuk bisa menata banyak hal di bidang urusan domestik. Meskipun saat ini perempuan Jawa banyak yang meniti karir, mengembangkan bakat dan profesinya namun mereka tidaklah lupa pada kodratnya sebagai seorang wanita yang dibebani tugas mengatur urusan domestik. Dalam ajaran agama Islam dikatakan bahwa Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Hal ini selaras dengan peran perempuan Jawa sebagai wanita mengambil peran dalam mendidik, menata tingkah laku anak-anaknya, sekaligus manager keuangan keluarga. 

Sementara Wadon diambil dari bahasa Kawi dari kata wadu yang berarti abdi atau kawula. Seorang perempuan Jawa dididik untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi keluarganya. Ungkapan dalam bahasa Jawa suwarga nunut neraka katut bisa dimaknai susah senang dijalani bersama sama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perempuan Jawa walaupun meniti karir tetap berusaha meluangkan waktunya untuk mengurus rumah tangga dengan sebaik mungkin karena besarnya rasa tanggung jawab yang mereka miliki. 

Kata perempuan sendiri berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa, ataupun kepala, hulu, atau yang paling besar. Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa di masa yang lampau seorang ahli dari yang paling ahli akan mendapat sebutan empu. Oleh sebab itulah maka sebutan ibu yang melekat pada perempuan akan menjadi pusat dari seluruh kehidupan. Kita mengenal pusat kota sebagai ibukota, pusat jari sebagai ibu jari, tanah kelahiran yang disebut ibu pertiwi, dan bahkan bagian terpenting dari sebuah sistem komputer disebut dengan motherboard. 

Di masa lampau julukan kanca wingking juga akrab melekat pada perempuan Jawa. Kanca wingking dimaknai bahwa peran perempuan banyak berada di belakang dalam kancah domestik. Seiring perkembangan zaman taraf pendidikan perempuan Jawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perempuan banyak yang meniti karir dan mampu menduduki posisi jabatan-jabatan strategis dengan kemampuan diatas rata-rata. Sehingga arti dari kanca wingking mulai bergeser menjadi tempat bertukar pikiran dalam merencanakan masa depan, teman di balik layar atau bisa dikatakan sebagai seorang sutradara dalam merencanakan kehidupan yang dilalui. Sesungguhnya kiprah perempuan di masa kini baik yang berasal dari suku Jawa maupun bukan sudah tidak bisa lagi dipandang remeh temeh. Perempuan bukan lagi hanya sebagai objek belaka namun mereka memiliki peran dalam setiap kehidupan sehingga mereka berhak untuk didengarkan suaranya, dihormati pendapatnya, dan juga diakui kemampuan dan potensi yang dimilikinya. (Siti Nurjanah – SDN 2 Gondangsari Jatisrono)