BUDAYA BACA, RIWAYATMU KINI.

Dulu, ketika jaman dan teknologi belum maju dan secanggih sekarang, membaca adalah salah satu hobi yang sering kita temui ketika kita bertanya pada anak – anak di dalam kelas.

Di samping hobi bermain sepak bola tentunya. Perpustakaan, menjadi tempat yang ramai meski dengan buku – buku sederhana. Buku – buku yang kusam, sobekan kecil sana sini, adalah bukti bahwa buku – buku itu sering terjamah, sering tersentuh.

Berbeda dengan jaman sekarang, ketika era digital mulai menyentuh setiap sendi kehidupan, maka hobi – hobi baru pun bermunculan. Yang paling sering kita temui pada anak didik kita adalah, game online. Anak – anak mulai sering terlihat membawa ponsel canggihnya ke sana ke mari, mencari wifi gratis. Demi bisa mabar dengan teman – temannya. Kemudian muncullah istilah noob dan pro di antara mereka. Lalu, bagaimana dengan membaca buku? Pelan – pelan mulai terlupakan keberadaannya. Perpustakaan mulai sepi pengunjung, hanya segelintir anak yang mau menyambangi, itupun dengan catatan “ sudah terjadwal” dan “diwajibkan”. Selain itu? Nihil. Membaca kemudian menjadi suatu beban bukan suatu kebutuhan. Selain itu, anak – anak sekarang lebih suka memanfaatkan smartphone mereka untuk ber-media sosial, hanya sebagian kecil saja yang memanfaatkannya untuk membaca buku ataupun artikel, selebihnya dimanfaatkan untuk membaca chat, melihat story, dan aktivitas lainnya.
Dikutip dari kompasiana.com, saat ini generasi muda banyak yang tidak suka membaca. Berdasarkan data Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 90% penduduk usia di atas 10 tahun tidak suka membaca buku. Penduduk negara maju membaca 20 hingga 30 judul buku per tahun, namun penduduk Indonesia hanya membaca sekitar 3 judul buku per tahun. Bahkan, menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana.
Tak cuma anak – anak, belakangan ini hanya segelintir saja orang dewasa yang masih setia dengan koran. Memang, kita bisa menemukan bacaan dalam bentuk digital, bisa berupa pdf, e-book, maupun memalui portal online. Tak perlu ribet membawa – bawa buku dan koran, cukup membawa smarthphone, maka “dunia ada dalam genggamanmu”.Maraknya penggunaan smartphone sebagai media baca, media informasi, tak pelak menimbulkan hal negatif. Kita kesampingkan dulu masalah kesehatan. Kita fokuskan dulu pada lalu lintas informasi yang bisa kita akses kapanpun di manapun, seharusnya menjadikan kita lebih selektif dan bijaksana dalam menanggapi informasi yang kita terima. Membandingkan antara informasi yang satu dengan yang lain agar tidak terjebak dalam lingkaran informasi yang salah.Tapi, bagaimana faktanya? Di lapangan sering ditemui, apa yang mereka baca pertama kali adalah apa yang mereka percaya. Ataupun membaca judul berita tanpa membaca keseluruhan isinya. Hingga, tak jarang muncul hoax di mana – mana.

Indonesia sedang berada pada tahap darurat membaca, padahal saat ini Indonesia tengah mempersiapkan generasi mudanya untuk menjadi generasi yang unggul. Manusia yang unggul dibangun oleh pengetahuan yang luas, yang bisa diperoleh melalui aktivitas membaca. Langkah utama untuk mendapatkan generasi unggul adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yaitu dengan membaca. Belum terlambat jika kita gerakkan kembali budaya membaca, dengan pembiasaan sedari dini, serta dorongan membaca dari keluarga, masyarakat, serta sekolah. Menghidupkan kembali perpustakaan yang ada di sekolah- sekolah maupun perpustakaan umum, atau lebih baik lagi jika diusahakan kembali adanya perpustakaan keliling. Sebagai penutup, mengutip Quote Matt Haig : How to travel in time: read.

(Apriliana Tri Anizah, S.Pd – SDN 1 Watangsono)