Kencang Beribadah Saat Corona Mewabah

Rohmah Jimi Sholihah, S.Pd.I Guru Pendidikan Agama Islam SDN 2 Tasikhargo

Coronavirus Disease atau yang kerap kita kenal dengan sebutan Covid-19 kini sedang mewabah di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Beberapa waktu yang lalu saat ribuan orang di China tumbang, kita masih bisa menghadiri kajian. tawa ibu-ibu masih terdengar kencang di sela-sela arisan. Riuh ramai suara anak-anak berseragam masih memenuhi setiap sudut ruang di sekolahan. Tak pernah secuil pun terpikirkan, makhluk kecil yang entah seperti apa bentuk nyatanya itu bisa secepat ini datang dan mengusik ketenangan.

Virus yang ada di negeri antah berantah tidak disangka-sangka sedekat itu dengan kita sekarang. Tetangga desa, kecamatan bahkan rekan kita tiba-tiba terkapar di rumah sakit hingga nyawanya tak terselamatkan. Himbauan pemerintah santer didengungkan untuk menjaga jarak, memakai masker hingga tetap di rumah saja. Qodarullah, virus ini mewabah saat kaum Muslim seharusnya bergembira menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Masjid yang biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang beribadah kini lengang. Takbir yang berkumandang hingga lantunan ayat suci Al-Quran yang menggetarkan hati tak terdengar lagi. Seakan kontras dengan kegiatan keagamaan, pasar-pasar di pedesaan masih ramai pengunjung. Jalanan di sore hari tak pernah sepi dari orang yang sekedar ngabuburit atau membeli takjil, seolah corona adalah debu yang bisa hilang dalam sekali usapan. Padahal datangnya pandemi saat kita menjalankan ibadah puasa justru seperti cemeti yang membuat kita harus lebih mengencangkan ibadah.

Betapa kita yang bertubuh gempal, berotak pintar, menguasai ilmu di berbagai bidang bisa saja dikalahkan makhluk supermini itu. Tak peduli rentetan nominal yang kita punyai atau bangunan yang kita miliki, virus itu bisa saja mendatangi. Poin penting yang harus digarisbawahi dalam pembatasan ibadah ini adalah lokasi serta kerumunannya yang dilarang, bukan kegiatan ibadahnya. Umat muslim tetap harus beribadah salat tarawih hanya saja di rumah beserta keluarga. Kerumunan yang dikhawatirkan menjadi penyebaran virus, itulah yang dibatasi bukan justru salat tarawihnya yang di skip dan diganti menonton televisi.

Tanpa kita sadari kita sedang menjalani sebuah sejarah yang akan dikenang selamanya. Para ayah yang di Ramadhan sebelumnya menjadi makmum di shaf terakhir, kini dituntut berdiri dengan gagah sebagai imam dari keluarganya menjalankan ibadah di rumah. Momen work from home juga seharusnya membuat kita lebih leluasa beribadah serta menambah jumlah khatam bacaan Al-Qur’an. Ibadah sosial pun tak boleh luput dari perhatian. Pandemi global yang memutus kontrak pekerjaan serta membuat banyak kepala keluarga dirumahkan menyentil kita untuk turut berkontribusi dalam meringankan beban mereka. Ibadah tak melulu soal sebuah sujud panjang dan doa yang diangkasakan, namun juga berbentuk kepedulian yang diwujudkan dalam bantuan. Tak perlu malu terhadap sedikitnya benda yang kita berikan, namun bagaimana menata hati supaya rasa ikhlas tumbuh subur dalam diri.

Virus corona datang menjadi pengingat untuk selalu waspada, memperbanyak dzikir dan do’a. Tak perlu bertanya dan saling menyalahkan, mengapa ibu pertiwi harus juga menangis karena wabah ini. Yang perlu kita lakukan adalah menerima semua kejadian ini, dan percaya bahwa ini adalah sebagian kecil dari rencana Yang Maha Hidup dan Mematikan. Jangan biarkan ibadah kita semakin kendur, karena kita tak tahu kapan tak bisa bangun dari tidur. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa berkegiatan seperti biasanya. Aamiin.

 

 

Rohmah Jimi Sholihah, S.Pd.I

Guru Pendidikan Agama Islam SDN 2 Tasikhargo